oleh : Ali Mustofa Abdurrahman II

Tentara zionis Yahudi tengik kembali berbuat ulah, pada Tanggal 31 Mei 2010 ini, mereka menyerang kapal Mavi Marmara yang ditumpangi sekitar 700 relawan berbagai Negara, saat posisi kapal masih berada di kawasan laut internasional. 12 diantaranya adalah relawan asal Indonesia.

Mavi Marmara adalah satu dari 6 kapal Armada Kebebasan (Freedom Flotilla) yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Palestina. Namun belum sampai tujuan, mereka di serang oleh tentara Israel. Saksi mata menyebutkan puluhan anggota pasukan Israel meluncur dengan tali dari helikopter, dan begitu mendarat mereka menembaki penumpang di geladak kapal dengan peluru tajam. (Liputan6.com 31/05).

Seperti yang diberitakan televisi AlJazeera (31/05) melalui running text, korban tewas mencapai 19 orang, puluhan lainnya luka-luka. Menurut informasi, iring-iringan 6 kapal bantuan kemanusiaan milik the Freedom Flotilla itu kemudian ditahan di Haifa, Israel. Bagi relawan muslim yang meninggal, InsyaAllah mendapatkan karunia syahid.

Kejadian ini merupakan tindakan biadab Israel yang kesekian kalinya, setelah berulang kali melakukan tindakan serupa. Ribuan nyawa warga Palestina telah dibantai. Tidak cukup dengan itu, mereka juga di boikot, sehingga sulit mendapatkan akses logistik dari luar. Sistem nation state yang diterapkan negri-negri muslim lainya membuat umat Islam tidak mampu berbuat banyak terhadap tindakan keji yang menimpa saudara-saudara mereka di Palestina.

Sementara itu, Lembaga internasional semacam PBB selama ini mandul, hanya mengecam lalu diam. Bahkan PBB lah yang mengesahkan berdirinya Negara Israel melalui resolusi yang dikeluarkan majlis umum PBB no. 181 tanggal 29 oktober 1947. Penguasa-penguasa di negri-negri Muslim juga tidak berani untuk mengirimkan tentaranya, padahal mereka mampu untuk itu. Perjanjian damai ataupun diplomasi tidak ada gunanya, mereka selalu melanggarnya. Lagian perjanjian damai yang selama ini dilakukan tidaklah menyentuh substansi persoalan. Sebab substansi persoalannya adalah pencaplokan Negara oleh Israel, jadi harus diusir, bukannya solusi dua Negara.

Bumi suci Palestina merupakan tanah kharajiyah yang tidak boleh dikuasai oleh kaum kafir harbi macam zionis Israel. Pernah suatu ketika, pada masa kehilafahan Islam, Yahudi yang dipimpin oleh Thedore Hezstl ingin mendirikan Negara Israel dengan membawa harta emas yang sangat banyak sebagai imbalan untuk Negara khilafah, sang khalifah dengan tegas menjawab:

“Nasehati Dr. Herztl supaya jangan meneruskan rencananya! Aku tidak akan melepaskan walaupun hanya segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah ini adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silahkan menyimpan harta mereka. Jika Daulah Khilafah dimusnahkan suatu hari, maka mereka bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Tapi, selama aku (khalifah) masoh hidup, aku lebih rela ditusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah”.

Dan kini, setelah khilafah itu tiada, apa yang diinginkan orang-orang Yahudi itu pun menjadi kenyataan, mereka berhasil mendirikan Negara Israel di tanah Palestina.

PERSOALAN PALESTINA

Sejatinya persoalan di Palestina itu ada dua macam, yakni Korban dan Pembantai. Korbannya masyarakat Palestina, sedangkan pembantainya adalah zionis Yahudi. Untuk korban solusinya tentu makanan, obat-obatan dsb. Bagi pembantai, solusinya adalah Jihad fisabilillah, mengusir mereka dari tanah palestina.

Sebenarnya Israel itu tidaklah menakutkan, terbukti mereka sempat keteteran ketika menghadapi cuma dengan sekelompok dari umat Islam yakni Hizbullah. Begitu juga pada invasi terakhir, tentara zionis berhasil dipaksa mundur oleh pejuang-pejuang Palestina karena kerepotan menghadapi sengitnya perlawanan para mujahidin. Namun persoalannya, zionis biadab tersebut masih bercokol di palestina, Negara Israel masih bertengger.

Perlu di perhatikan juga, di belakang zionis yang bertindak sebagai backingnya ada Negara yang sama-sama terorisnya, yakni Amerika Serikat. Namun umat Islam juga tidak perlu takut dengan AS, mereka juga tidak sehebat sebagaimana yang digambarkan di film-film, AS juga pernah dibuat kedodoran ketika menghadapi tentara-tentara vietnam beberapa tahun silam, Amerika seakan juga kewalahan ketika menghadapi mujahidin Taliban. Mereka menjadi kuat karena mereka bersatu, sama-sama menunjukkan kebenciannya kepada umat Islam.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS. Al Baqarah 120]

Karena itu, di samping kita mendoakan saudara-saudara kita yang berjuang di sana, serta memberikan bantuan moril maupun material semampunya, belumkah tibakah saatnya bagi kita untuk berjuang secara sungguh-sungguh untuk menegakkan khilafah Islamiyah. Karena Khalifahlah yang akan menyatukan serta menghimpun potensi seluruh kaum muslim, sehingga dengan ijin Allah mampu untuk mengusir zionis Israel La’natullah dari tanah palestina. Tidak hanya itu saja, khilafah juga akan membebaskan seluruh negri-negri muslim yang sekarang ini sedang di jajah. Islam bersatu tak bisa dikalahkan!

Wallahu a’lam bi ash-shawab